Thursday, October 13, 2016

RESENSI BUKU METODE PENILITIAN PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN


BAB I PENDAHULUAN

Sebagai paradigma baru, dosen memiliki tugas yang tidak ringan. Sebab, dosen tidak hanya berkewajiban mengajar akan tetapi juga membimbing mahasiswa agar yang bersangkutan memiliki kompetensi yang relevan dengan keahliannya. Tidak hanya sekedar itu, akan tetapi juga memiliki tanggung jawab pengembangan ilmu pengetahuan melalui penelitian yang semestinya dilakukan secara terus menerus. Bagaimana dosen akan dapat membimbing untuk mahasiswa agar menemukan sesuatu yang baru,  jika dosennya sendiri tidak melakukan riset,  baik kepustakaan ataupun lapangan.
Tanggung jawab dosen yang relatif berat adalah melakukan penelitian secara serius. Di dalam hal ini, maka seorang dosen memanggul tugas untuk menemukan konsep atau teori yang sesuai dengan bidangnya. Sehingga ketika ditanya apakah temuan saudara sebagai dosen di dalam pengembangan ilmu pengetahuan, maka yang bersangkutan bisa menyatakan dengan tegas, ini temuan saya. Dan temuan akademis itulah yang kemudian menjadi kekuatan akademis lembaga atau institusi pendidikan dimana yang bersangkutan mengabdi di dalam dunia akademik.
Di negara-negara yang tradisi akademiknya sudah mapan, maka tolok ukur kehebatan sebuah perguruan tinggi disebabkan oleh seberapa banyak doctor dan profesornya yang menemukan konsep atau teori baru yang sangat menonjol.  Bahkan diukur dari seberapa banyak dosennya memperoleh hadiah Nobel dalam ilmu pengetahuan yang digelutinya. Universitas Harvard, Universitas Oxford dan lainnya tentu sangat kuat ditinjau dari raihan  Nobel Prize ini.
Kita tentu belum bisa bermimpi untuk hadiah Nobel, sebab kriteria yang digunakannya sangat ketat dan pengaruh internasionalnya yang sangat luar biasa. Melihat ukuran ini, maka memang belum saatnya mimpi tentang ini. Namun demikian, sebagai bangsa yang hebat tentu harus ada mimpi ini. Perguruan tinggi besar, seperti UGM, UI, ITB, Unair dan sebagainya tentu harus sudah mulai mimpi untuk memperoleh hadiah nobel. Cina, sudah berancang-ancang untuk memperoleh hadiah Nobel sebanyak-banyaknya  pada tahun-tahun mendatang. Dan caranya adalah dengan melakukan pemihakan secara memadai untuk kepentingan tersebut, baik dari sisi kebijakan politik maupun anggaran.
Di sinilah makna riset-riset unggulan bagi para dosen atau pelaku akademis. Tanpa riset unggulan yang sangat memadai tentu tidak akan pernah lahir  peneliti-peneliti yang hebat. Jika kita perhatikan banyaknya pemenang olimpiade sains di dunia internasional, maka sesungguhnya banyak potensi kita  yang ke depan bisa didayagunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. Hanya saja memang pemihakan kebijakan yang belum secara maksimal dilakukan.
Indonesia sesungguhnya memiliki potensi yang sangat memadai untuk menjadi negara yang sangat kuat di bidang ilmu pengetahuan. Banyaknya perguruan tinggi, banyaknya SDM, banyaknya SDA dan potensi lainnya, maka sebenarnya banyak potensi yang bisa dikembangkan. Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya sudah mengangkat citra Bangladesh sebagai negara dunia ketiga yang memiliki reputasi internasional. Bahkan negara yang penuh konflik, Irak juga menghasilkan pejuang wanita, Shireen Ebadi,  di bidang HAM untuk meraih nobel. Semuanya tentu karena dukungan media dan publikasi yang sangat mendasar. Oleh karena itu, yang menjadi penting adalah bagaimana pemihakan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh pemerintah dan perguruan tinggi. Pemerintah seharusnya melakukan kebijakan politik pendidikan agar tujuan untuk meningkatkan dunia akademis bisa terwujud.
Di dalam politik pendidikan, maka wewenang pemerintah adalah untuk menyediakan ketercukupan anggaran bagi dunia pendidikan. Untuk ini, maka sesungguhnya politik pendidikan tersebut sudah dilaksanakan melalui diterbitkannya berbagai peraturan pemerintah, sepertu UU No. 20 Tahun 2003. Melalui undang-undang ini dan turunannya, maka politik pendidikan tersebut sudah dilaksanakan. Hanya saja, implementasinya memang masih tertatih-tatih.  Misalnya, bahwa 20 prosen anggaran pendidikan ternyata masih besar yang digunakan untuk anggaran rutin, gaji PNS.

Bantuan yg diberikan oleh para Dosen Penasehat Akademik kepada individu-individu mahasiswa dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengembangkan pandangan, mengambil keputusan dan menanggulangi konsekuensinya sendiri dalam menyelesaikan studi.

























BAB II
PENGETAHUAN DAN PENDEKATAN ILMIAH

A.     Definisi Ilmu Pengetahuan dan Penelitian Ilmiah
  1. Definisi ilmu pengetahuan
Pengetahuan merupakan persepsi subyek (manusia) atas obyek (riil dan gaib) atau fakta. Ilmu Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang benar disusun dengan sistem dan metode untuk mencapai tujuan yang berlaku universal dan dapat diuji/diverifikasi kebenarannya
Berikut beberapa definisi ilmu pengetahuan menurut beberapa ahli:
Mohammad Hatta Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut hubungannya dari dalam.
Harsojo, ilmu pengetahuan merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan. Suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat diamati panca indera manusia. Suatu cara menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk: “jika,….maka…”
2.   Definisi penelitian ilmiah
Ada beberapa definisi penelitian yang telah dikemukan oleh beberapa ahli, antara lain:
Penelitian adalah investigasi yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis dari suatu proposisi hipotesis mengenai hubungan tertentu antarfenomena (Kerlinger, 1986: 17-18).
Penelitian merupakan refleksi dari keinginan untuk mengetahui sesuatu berupa fakta-fakta atau fenomena alam. Perhatian atau pengamatan awal terhadap fakta atau fenomena merupakan awal dari kegiatan penelitian yang menimbulkan suatu pertanyaan atau masalah (Indriantoro & Supomo, 1999: 16).

                                                 




Sumber Pengetahuan
                                                  Sumber-sumber pengetahuan dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori :
                                                  1) pengalaman,
                                                  2) keahlian (kewenangan),
                                                  3) penalaran deduktif,
                                                  4) penalaran induktif,
                                                  5) metode ilmiah

                                                      1.  Pengalaman
1. Pengalaman                                     Merupakan suatu sumber pengetahuan yang sering digunakan manusia. Pengetahuan yang diturunkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya umumnya merupakan hasil dari pengalaman manusia. Bila manusia tidak dapat mengambil keuntungan dari pengalamannya, kemajuannya akan sangat terlambat. Sekalipun kegunaannya yang besar, pengalaman sebagai sumber kebenaran mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Bagaimana seseorang terpengaruh oleh suatu peristiwa tergantung kepada orang itu sendiri. Kekurangan lain dari pengalaman adalah bahwa manusia sering kali perlu mengetahui hal-hal yang tidak ia ketahui/dapatkan  dari pengalaman.

2.    Keahlian        
                                                              Untuk hal-hal yang sulit atau tidak mungkin diketahui melalui pengalaman pribadi manusia berpaling kepada orang lain yang dianggap mengetahui, berpengalaman, atau mempunyai keahlian tentang hal tersebut. Manusia biasanya menganggap informasi dari para ahli sebagai kebenaran. Meskipun keahlian merupakan salah satu sumber pengetahuan yang bermanfaat, kita tidak dapat melupakan pertanyaan: ”Bagaimana para ahli tersebut tahu?” Jaman dahulu seorang ahli dianggap benar hanya karena jabatan yang dipangkunya misalnya raja, ketua, atau pendeta. Sekarang orang tidak mau lagi tergantung pada individu sebagai seorang ahli karena jabatannya. Kini orang cenderung untuk menerima asumsi-asumsi seorang ahli hanya bila ia mendasarkan pernyataan-pernyataannya pada pengalaman atau sumber-sumber pengetahuan lain yang dapat dipercaya.

                                                  3. Penalaran Deduktif
                                                              Mungkin sumbangan penting pertama dalam pengembangan suatu pendekatan sistematik untuk menemukan kebenaran diberikan oleh para ahli filsafat kuno Yunani. Aristoteles beserta pengikutnya memperkenalkan penggunaan penalaran deduktif, yang dapat digambarkan sebagai suatu proses berpikir di mana orang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang umum ke yang khusus dengan menggunakan aturan-aturan logika. Penalaran deduktif merupakan suatu sistem untuk menyusun fakta-fakta yang telah diketahui sebelumnya agar dapat mengambil kesimpulan. Ini dilakukan melalui suatu rentetan pernyataan yang dinamakan silogisme. Silogisme berisi: a) premis mayor, b) premis minor, dan c) kesimpulan.
                                                  Contoh penalaran silogistik adalah sebagai berikut :
                                                  a) Semua manusia dapat mati (premis mayor),
                                                  b) presiden itu manusia (premis minor); karena itu presiden itu dapat mati (kesimpulan).
                                                  Dalam penalaran deduktif, bila premis-premisnya benar, kesimpulannya harus benar. Penalaran deduktif memungkinkan kita menyusun premis-premis ke dalam pola-pola yang memberikan bukti konklusif untuk validitas suatu kesimpulan. Akan tetapi, penalaran deduktif mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Kesimpulan silogisme tidak pernah dapat melebihi isi premis-premisnya. Penalaran deduktif dapat menyusun apa yang sudah diketahui dan dapat melahirkan hubungan baru pada waktu kita bergerak dari pernyataan yang umum ke yang khusus, tapi belum cukup untuk menjadi sumber kebenaran baru.
                                                  Sekalipun mempunyai beberapa keterbatasan, penalaran deduktif bermanfaat pada proses penelitian. Penalaran ini juga memungkinkan para peneliti untuk menyimpulkan fenomena apa yang harus diamati dari teori yang sudah ada. Deduksi dari teori dapat melahirkan hipotesis, yang merupakan bagian penting dari penelitian ilmiah.
                                                   
                                                  4. Penalaran Induktif
                                                              Kesimpulan-kesimpulan penalaran deduktif benar hanya bila premis-premisnya benar. Tetapi bagaimana orang tahu apakah premis-premis tersebut benar? Dalam abad pertengahan dogma seringkali digunakan sebagai pengganti premis-premis yang benar. Akan tetapi hasilnya merupakan kesimpulan yang tidak mempunyai validitas. Kemudian muncullah seorang yang bernama Francis Bacon (1561 – 1626), orang pertama yang memperkenalkan pendekatan baru untuk memperoleh pengetahuan. Ia berpendapat bahwa orang seharusnya tidak usah memperbudak diri sendiri dengan cara menerima premis-premis yang diberikan oleh orang-orang yang dianggap ahli sebagai kebenaran mutlak. Ia berpendapat bahwa peneliti harus menyusun kesimpulan umum berdasarkan fakta yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung. Bagi Bacon, untuk memperoleh pengetahuan orang harus mengadakan pengamatan, mengumpulkan fakta dan membuat kesimpulan dari penemuan-penemuannya. Inilah yang menjadi prinsip dasar dari semua ilmu.
                                                  Perlu diperhatikan bahwa dalam penalaran deduktif premis-premis yang digunakan harus sudah diketahui sebelum kesimpulan dibuat. Tetapi dalam penalaran induktif kesimpulan diambil dengan pengamatan contoh-contoh dan kemudian barulah penyimpulan dari contoh-contoh tersebut diambil. Agar kesimpulan induktif lebih dapat dipercaya, semua contoh harus diamati. Ini dikenal sebagai induksi sempurna dalam sistem Bacon. Cara ini menuntut peneliti untuk mengamati setiap contoh. Dalam kenyataannya hal ini pada umumnya tidak mungkin dilakukan. Karena itu kita biasanya harus puas dengan induksi yang tak sempurna berdasarkan pengamatan tak tuntas. Sekalipun induksi tak sempurna tidak memungkinkan kita untuk mengambil kesimpulan sempurna, kita dapat memperoleh informasi yang bermanfaat untuk membuat keputusan.
                                                                         
                                                  5. Metode Ilmiah
                                                              Metode ilmiah biasanya dilukiskan sebagai suatu proses di mana peneliti menalar secara induktif dari pengamatan-pengamatannya ke arah hipotesis dan kemudian secara deduktif dari hipotesis ke arah implikasi logis hipotesis tersebut. Peneliti mendeduksikan hasil yang akan diperolehnya, bila hipotesis tersebut didukung oleh data observasinya. Bila implikasi yang dideduksikan ini sesuai dengan pengetahuan yang sudah ada maka ini kemudian diuji dengan data empiris tambahan. Berdasarkan bukti ilmiah, maka hipotesis peneliti ditolak atau diterima.
                                                  Penggunaan hipotesis merupakan perbedaan utama antara pendekatan ilmiah dengan penalaran induktif. Dalam penalaran induktif orang mengadakan pengamatan dulu kemudian ia menyusun informasi yang diperolehnya. Dalam pendekatan ilmiah orang berpikir tentang apa yang akan ditemukannya bila suatu hipotesis benar (didukung oleh data) dan kemudian secara sistematis ia mengamati datanya untuk menguji hipotesisnya. Yang perlu diingat di sini adalah bahwa metode ilmiah merupakan suatu proses penelitian yang dilakukan melalui bagian-bagian yang saling tergantung satu dengan yang lain. Ini adalah suatu metode penelitian yang senantiasa berkembang sepanjang masa dan telah dipertahankan karena metode tersebut telah membuktikan sebagai metode yang berhasil sampai kini untuk memahami dunia kita yang rumit ini.





BAB 3
HAKIKAT PENELITIAN PENDIDIKAN

            Pada hakikatnya penelitian merupakan suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan metode- metode ilmiah. Menurut Suparmoko (1991), penelitian adalah usaha yang secara sadar diarahkan untuk mengetahui atau mempelajari fakta-fakta baru dan juga sebagai penyaluran hasrat ingin tahu manusia.
Penelitian adalah investigasi yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis dari suatu proposisi hipotesis mengenai hubungan tertentu antarfenomena (Kerlinger, 1986: 17-18). Penelitian merupakan refleksi dari keinginan untuk mengetahui sesuatu berupa fakta-fakta atau fenomena alam. Perhatian atau pengamatan awal terhadap fakta atau fenomena merupakan awal dari kegiatan penelitian yang menimbulkan suatu pertanyaan atau masalah (Indriantoro dan Supomo,1999: 16). Sedangkan menurut Fellin, Tripodi dan Meyer (1969) penelitian adalah suatu cara sistematik untuk maksud meningkatkan, memodifikasi dan mengembangkan pengetahuan yang dapat disampaikan (dikomunikasikan) dan diuji (diverifikasi) oleh peneliti lain.
Dari definisi para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian penelitian yaitu suatu proses penyelidikan yang dilakukan secara sadar, bersifat sistematik, terkontrol, empiris dan kritis, dalam mengungkap suatu fenomena atau hubungan fenomena tertentu dengan maksud meningkatkan, memodifikasi dan mengembangkan pengetahuan yang dapat diverifikasi.
Dalam dunia pendidikan, dengan penelitian bisamembawa pengertian yang semakin baik terhadap perilaku orang perseorangan, termasuk subyek didik atau pendidik, proses belajar mengajar serta situasi atau kondisi yang bisa membuat lebih berhasilnya proses pendidikan. Pada ilmu - ilmu tingkah laku, penelitian mengarah pada pengembangan dan pengujian teori- teori tingkah laku. Pemahaman terhadap tingkah laku peserta didik atau pun pendidik semakin di perlakukan dari hasil- hasil penelitian dalam bidang pendidikan, baik dari segi ilmu maupun prakteknya.
Pada umumnya penelitian- penelitian pendidikan tergolong penelitian jenis terapan guna mengembangkan generalisasi- generalisasi yang berkenaan dengan proses belajar mengajar dan bahan- bahan mengajar. Karena itu, penelitian pendidikan memberikan perhatiannya pada pengembangan dan pengujian teori- teori tentang bagaimana peserta didik berperilaku dalam setting pendidikan.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulkan pengertian penelitian pendidikan adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang berguna dan dapat dipertanggungjawabkan dalam upaya memahami proses kependidikan dalam lingkungan pendidikan melalui pendekatan ilmiah, baik di lingkungan pendidikan formal, pendidikan informal, maupun pendidikan nonformal. Menemukan prinsip- prinsip umum atau penafsiran tingkah laku yang dapat dipakai untuk menerangkan, meramalkan, dan mengendalikan kejadian- kejadian dalam lingkungan pendidikan merupakan tujuan dari suatu kerja penelitian pendidikan.



Pada dasarnya tujuan penelitian pendidikan ialah menemukan prinsip- prinsip umum atau penafsiran tingkah laku yang dapat dipakai untuk menenrangkan, meramalkan, dan mengendalikan kejadian – kejadian dalam lingkungan pendidikan, baik pendidikan formal, nonformal, maupun informal.
Secara umum bebrapa tujuan penelitian yang hendak dicapai, termasuk penelitian pendidikan antara lain:
 (1) memperoleh informasi baru,
 
(2) mengembangkan dan menjelaskan, dan
 (3) menerangkan, memprediksi, dan mengontrol suatu ubahan.
Tujuan- tujuan penelitian tersebut diuraikan sebagai berikut.
1.       Memperoleh informasi baru
Untuk menemukan sesuatu yang baru bidang pendidikan dilakukan melalui penelitian pendidikan. Artinya, dalam perkembangan pengetahuan, termasuk juga ilmu atau pengetahuan di bidang pendidikan, penemuan sesuatu yang baru mengenai berbagai persoalan pendidikan dapat dilakukan dengan metode atau cara penelitian yang hasilnya berupa temuan-temuan baru. Karena itu, kegiatan penelitian harus dilakukan dengan cara- cara yang benar, dalam arti dilakukan secara sistematis dengan menggunakan metode- metode ilmiah.
2.       Mengembangkan dan menjelaskan
Mengembangkan hasil kajian dari suatu kegiatan penelitian pendidikan berarti mengembangkan perubahan-perubahan dan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh individu, kelompok ataupun organisasi dalam kurun waktu tertentu.
3.       Menerangkan, memprediksi, dan mengontrol suatu ubahan
Ubahan yang didalam istilah penelitian disebut variabel. Variabel adalah gejala yang sedang diteliti. Variabel atau ubahan adalah simbol yang digunakan untuk mentransfer gejala ke dalam data penelitian. Biasanya variabel muncul pada tingkat intensitas yang berbeda sehingga variabel itu adalah variabel lebel. Ada beberapa varibel yang biasa digunakan dalam suatu penelitian, yaitu: variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas (independent variable) adalah variabel yang memberi pengaruh atau diuji pengaruhnya terhadap variabel lain, disebut juga variabel perlakuan, variabel eksperimen atau variabel intervensi. Variabel terikat (dependent variabel) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas, disebut juga variabel hasil, variabel pos tes, atau variabel kriteria.
            Pemahaman tentang bagaimana penelitian berperan dalam mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki praktik pendidikan dikaitkan dengan perbedaan macam-macam penelitian berkenaan dengan fungsinya. Secara umum penelitian mempunyai dua fungsi utama, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki praktek.
Penelitian dasar, misalnya mempunyai andil yang sangat besar dalam mengembangkan batang ilmu pengetahuan (a scientific body of knowledge). Temuan-temuan penelitian dasar dapat memperkaya teori. Selain pengembangan ilmu pengetahuan peranan penelitian lain yang berfungsi memperbaiki praktek (pendidikan) adalah penelitian terapan dan evaluatif yang ditujukan untuk meneliti praktik pendidikan, meneliti penerapan teori atau mengevaluasi pelaksanaan program dan kegiatan. Karena itu, hasil-hasil penelitian terapan dan evaluasi tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki praktik pendidikan.

           

            Berdasarkan pendekatan, secara garis besar dibedakan dua macam penelitian, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Keduanya memiliki asumsi, karakteristik dan prosedur penelitian yang berbeda. Secara umun terdapat perbedaan mendasar antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif, dapat dilihat pada tabel berikut ini.


Penelitian kuantitatif
Penelitian kualitatif
1.      Berpijak pada konsep Positivistik.
2.      Kenyataan berdimensi tunggal, fragmental terbatas, fixed.
3.      Hubungan antara peneliti dengan objek lepas, penelitian dari luar dengan instrumen standar yang objektif.
4.      Seting penelitian buatan lepas dari tempat dan waktu.
5.      Analisis kuantitatif, statistik, objektif.
6.      Hasil penelitian berupa inferensi, generalisasi, prediksi.
1.     Berpijak pada konsep Naturalistik
2.     Kenyataan berdimensi jamak, kesatuan utuh, terbuka, berubah.
3.     Hubungan peneliti dengan objek berinteraksi, penelitian dari luar dan dalam, peneliti sebagai instrumen, bersifat subjektif, judgement.
4.     Seting penelitian alamiah, terkait, tempat dan waktu.
5.     Analisis subjektif, intuitif, rasional.
6.     Hasil penelitian berupa deskripsi, interpretasi, tentatif-situasional.

Oke.. dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru sudah pasti akan berhadapan dengan berbagai persoalan baik menyangkut peserta didik, subject matter, maupun metode pembelajaran. Sebagai seorang profesional, guru harus mampu membuat prefessional judgement yang didasarkan pada data sekaligus teori yang akurat. Selain itu guru juga harus melakukan peningkatan mutu pembelajaran secara terus menerus agar prestasi belajar peserta didik optimal disertai dengan kepuasan yang tinggi.
            Untuk mewujudkan hal tersebut guru harus dibekali dengan kemampuan meneliti, khususnya Penelitian Tindakan Kelas. Dalam hal ini peran pengawas sebagai pembina dan pembimbing para guru tentu sangat dibutuhkan. Pengawas tidak hanya berperan sebagai resources person atau konsultan, bahkan secara kolaboratif dapat bersama-sama dengan guru melakukan penelitian tindakan kelas bagi peningkatan pembelajaran.


            Pada awalnya, penelitian tindakan (action research) dikembangkan dengan tujuan untuk mencari penyelesaian terhadap problema sosial (termasuk pendidikan). Penelitian tindakan diawali oleh suatu kajian terhadap suatu masalah secara sistematis (Kemmis dan Taggart, 1988). Hasil kijian ini dija- dikan dasar untuk menyusun suatu rencana kerja (tindakan) sebagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Kegiatan berikutnya adalah pelaksanaan tindakan dilanjutkan dengan observasi dan evaluasi. Hasil observasi dan evaluasi digunakan sebagai masukkan melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada saat pelaksanaan tindakan. Hasil refleksi kemudian dijadikan landasan untuk menentukan perbaikan serta penyempurnaan tindakan selanjutnya.
            Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan sendiri. Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai praktik dan situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan. Terdapat dua hal pokok dalam penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini akan mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu;
 (1) untuk memperbaiki praktik;
(2) untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman para praktisi terhadap praktik yang dilaksanakannya; serta
(3) untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan.

            Dalam bidang pendidikan, khususnya dalam praktik pembelajaran, pene-litian tindakan berkembang menjadi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Reserach (CAR). PTK adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran berlangsung. PTK dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas.
Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan melalui tindakan yang akan dilakukan. PTK juga bertujuan untuk meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesinya. Tujuan khusus PTK adalah untuk mengatasi berbagai persoalan nyata guna memperbaiki atau meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas. Secara lebih rinci tujuan PTK antara lain:
  • Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
  • Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
  • Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
  • Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/pembelajaran secara berkelanjutan.
Output atau hasil yang diharapkan melaltu PTK adalah peningkatan atau perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang meliputi hal-hal sebagai berikut.
  • Peningkatan atau perbaikan kinerja siswa di sekolah.
  • Peningkatan atau perbaikan mutu proses pembelajaran di kelas.
  • Peningkatan atau perbaikan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainya.
  • Peningkatan atau perbaikan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.
  • Peningkatan atau perbaikan masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
  • Peningkatan dan perbaikan kualitas dalam penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa di sekolah.
Dengan memperhatikan tujuan dan hasil yang dapai dapat dicapai melalui PTK, terdapat sejumlah manfaat PTK antara lain sebagai berikut.
  • Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan bagi para pendidik (guru) untuk meningkatkan kulitas pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat dijadikan sebagai bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.
  • Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan pendidik. Hal ini ikut mendukung professionalisme dan karir pendidik.
  • Mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antarpendidik dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah dalam pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
  • Meningkatkan kemampuan pendidik dalam upaya menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini turut memperkuat relevansi pembelajaran bagi kebutuhan peserta didik.
  • Memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Di samping itu, hasil belajar siswa pun dapat meningkat.
  • Mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, serta melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.




Ada beberapa kegiatan yang harus dilaksanakan dengan baik. Diantara kegiatan dalam pelaksanaan penelitian diantaranya:
Pengumpulan Data – Kegiatan ini harus didasarkan pada pedoman yang sudah dipersiapkan dalam rancangan penelitian. Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penelitian dijadikan dasar dalam menguji hipotesis yang diajukan.
Analisis Data – Pengolahan data atau analisis ini dilakukan setelah data terkumpul semua yang kemudian dianalisis, dan dihipotesis yang diajukan diuji kebenarannya melalui analisis tersebut. Jika jenis data yang dikumpulkan itu berupa data kualitatif, maka pengolahan datanya dilakukan dengan cara menarik kesimpulan deduktif-induktif, namun jika data yang dikumpulkan berupa jenis data kuantitatif atau berbentuk angka-angka, maka analisis yang digunakan menggunakan analisis kuantitatif atau statistika sebelum menarik kesimpulan secara kualitatif.
validalitas:
Membicarakan validitas sebagai terminologi penelitian, setidak-tidaknya akan sampai pada dua pengertian , yakni berkaitan dengan pengukuran dan yang kedua berkaitan dengan penelitian itu sendiri. validitas berkaitan dengan tiga unsur; alat ukur,metode ukuran dan pengukur(peneliti).
Validitas ukur adalah suatu keadaan dimana alat ukur yang di gunakan untuk mengukur karakteristik seperti yang diinginkan oleh peneliti untuk diukur.
Validitas penelitian mempunyai pengertian yang berbeda dengan validitas pengukuran, walaupun untuk termencapai validitas penelitian syarat validitas pengukuran harus terpenuhi pula

Ada dua macam validitas penelitian yakni:
Validitas internal : ikwal kesahihan penelitian yang menyangkut pernyataan ; sejauh mana perubahan yang diamati dalam suatu penelitian (terutama penelitian ekprimental) benar-benar hanya terjadi karena perlakuan yang di berikan dan bukan pengaruh factor lain (variabel luar).

Faktor-Faktor yang mempengaruhi validitas internal:
1. Sejara(history) : Peristiwa yang terjadi pada waktu lalu dan kadang-kadang dapat berpengaruh teradap variable terikat
2. Kematangan (muturitas) : Adanya perubahan baik secara biologis maupun non biologis yang prosesnya dapat berpengaruh.
3. Seleksi(selection) : adanya perubahan cirri-ciri atau sifat-sifat dari suatu populasi
4. Prosedur (testing) : terjadinga stress yang dapat berpengaruh terhadap hasil tes
5. Instrumen : adanya pengaruh yang diakibatkan oleh alat ukur terhadap hasil tes
6. Mortalitas : adanya perubahan yang terjadikarena adanya anggota dari populasi yang drop out.
7. Nilai rata-rata : terjadinya perubahan akibat adanya nilai ekstrim tinggi atau yang rendah seingga mempengaruhi hasil tesnya





Validitas eksternal : ikhwal penelitian yang menyangkut pertanyaan, sejauh mana hasil suatu penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi induk (asal sampel) penelitian diambil.
Contoh : apabila kita meneliti tingkat efektifitas suatu metode penyuluhan baru mengenai program imunisasi dengan mengambil sampel di suatu desa dan ternyata baik hasilnya.

Factor-faktor yang mempengaruhi validitas
1.Efek seleksi berbagai anggota sampel
2. Gangguan penanganan perlakuan berganda