BAB I PENDAHULUAN
Sebagai paradigma baru, dosen memiliki tugas yang tidak ringan. Sebab, dosen tidak hanya berkewajiban mengajar akan tetapi juga membimbing mahasiswa agar yang bersangkutan memiliki kompetensi yang relevan dengan keahliannya. Tidak hanya sekedar itu, akan tetapi juga memiliki tanggung jawab pengembangan ilmu pengetahuan melalui penelitian yang semestinya dilakukan secara terus menerus. Bagaimana dosen akan dapat membimbing untuk mahasiswa agar menemukan sesuatu yang baru, jika dosennya sendiri tidak melakukan riset, baik kepustakaan ataupun lapangan.
Tanggung jawab dosen yang relatif berat adalah melakukan penelitian secara serius. Di dalam hal ini, maka seorang dosen memanggul tugas untuk menemukan konsep atau teori yang sesuai dengan bidangnya. Sehingga ketika ditanya apakah temuan saudara sebagai dosen di dalam pengembangan ilmu pengetahuan, maka yang bersangkutan bisa menyatakan dengan tegas, ini temuan saya. Dan temuan akademis itulah yang kemudian menjadi kekuatan akademis lembaga atau institusi pendidikan dimana yang bersangkutan mengabdi di dalam dunia akademik.
Di negara-negara yang tradisi akademiknya sudah mapan, maka tolok ukur kehebatan sebuah perguruan tinggi disebabkan oleh seberapa banyak doctor dan profesornya yang menemukan konsep atau teori baru yang sangat menonjol. Bahkan diukur dari seberapa banyak dosennya memperoleh hadiah Nobel dalam ilmu pengetahuan yang digelutinya. Universitas Harvard, Universitas Oxford dan lainnya tentu sangat kuat ditinjau dari raihan Nobel Prize ini.
Kita tentu belum bisa bermimpi untuk hadiah Nobel, sebab kriteria yang digunakannya sangat ketat dan pengaruh internasionalnya yang sangat luar biasa. Melihat ukuran ini, maka memang belum saatnya mimpi tentang ini. Namun demikian, sebagai bangsa yang hebat tentu harus ada mimpi ini. Perguruan tinggi besar, seperti UGM, UI, ITB, Unair dan sebagainya tentu harus sudah mulai mimpi untuk memperoleh hadiah nobel. Cina, sudah berancang-ancang untuk memperoleh hadiah Nobel sebanyak-banyaknya pada tahun-tahun mendatang. Dan caranya adalah dengan melakukan pemihakan secara memadai untuk kepentingan tersebut, baik dari sisi kebijakan politik maupun anggaran.
Di sinilah makna riset-riset unggulan bagi para dosen atau pelaku akademis. Tanpa riset unggulan yang sangat memadai tentu tidak akan pernah lahir peneliti-peneliti yang hebat. Jika kita perhatikan banyaknya pemenang olimpiade sains di dunia internasional, maka sesungguhnya banyak potensi kita yang ke depan bisa didayagunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. Hanya saja memang pemihakan kebijakan yang belum secara maksimal dilakukan.
Indonesia sesungguhnya memiliki potensi yang sangat memadai untuk menjadi negara yang sangat kuat di bidang ilmu pengetahuan. Banyaknya perguruan tinggi, banyaknya SDM, banyaknya SDA dan potensi lainnya, maka sebenarnya banyak potensi yang bisa dikembangkan. Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya sudah mengangkat citra Bangladesh sebagai negara dunia ketiga yang memiliki reputasi internasional. Bahkan negara yang penuh konflik, Irak juga menghasilkan pejuang wanita, Shireen Ebadi, di bidang HAM untuk meraih nobel. Semuanya tentu karena dukungan media dan publikasi yang sangat mendasar. Oleh karena itu, yang menjadi penting adalah bagaimana pemihakan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh pemerintah dan perguruan tinggi. Pemerintah seharusnya melakukan kebijakan politik pendidikan agar tujuan untuk meningkatkan dunia akademis bisa terwujud.
Di dalam politik pendidikan, maka wewenang pemerintah adalah untuk menyediakan ketercukupan anggaran bagi dunia pendidikan. Untuk ini, maka sesungguhnya politik pendidikan tersebut sudah dilaksanakan melalui diterbitkannya berbagai peraturan pemerintah, sepertu UU No. 20 Tahun 2003. Melalui undang-undang ini dan turunannya, maka politik pendidikan tersebut sudah dilaksanakan. Hanya saja, implementasinya memang masih tertatih-tatih. Misalnya, bahwa 20 prosen anggaran pendidikan ternyata masih besar yang digunakan untuk anggaran rutin, gaji PNS.
Bantuan yg diberikan oleh para Dosen Penasehat Akademik kepada individu-individu mahasiswa dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengembangkan pandangan, mengambil keputusan dan menanggulangi konsekuensinya sendiri dalam menyelesaikan studi.
BAB II
PENGETAHUAN DAN PENDEKATAN ILMIAH
A. Definisi
Ilmu Pengetahuan dan Penelitian Ilmiah
- Definisi ilmu pengetahuan
Pengetahuan
merupakan persepsi subyek (manusia) atas obyek (riil dan gaib) atau fakta. Ilmu
Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang benar disusun dengan sistem dan
metode untuk mencapai tujuan yang berlaku universal dan dapat
diuji/diverifikasi kebenarannya
Berikut
beberapa definisi ilmu pengetahuan menurut beberapa ahli:
Mohammad
Hatta Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan
yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang
sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut
hubungannya dari dalam.
Harsojo,
ilmu pengetahuan merupakan akumulasi
pengetahuan yang disistematisasikan. Suatu pendekatan atau metode pendekatan
terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan
waktu yang pada prinsipnya dapat diamati panca indera manusia. Suatu cara
menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu
proposisi dalam bentuk: “jika,….maka…”
2.
Definisi penelitian ilmiah
Ada
beberapa definisi penelitian yang telah dikemukan oleh beberapa ahli, antara
lain:
Penelitian
adalah investigasi yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis dari suatu
proposisi hipotesis mengenai hubungan tertentu antarfenomena (Kerlinger, 1986:
17-18).
Penelitian
merupakan refleksi dari keinginan untuk mengetahui sesuatu berupa fakta-fakta
atau fenomena alam. Perhatian atau pengamatan awal terhadap fakta atau fenomena
merupakan awal dari kegiatan penelitian yang menimbulkan suatu pertanyaan atau
masalah (Indriantoro & Supomo, 1999: 16).
Sumber Pengetahuan
Sumber-sumber pengetahuan dapat dikelompokkan ke dalam
lima kategori :
1) pengalaman,
2) keahlian (kewenangan),
3) penalaran deduktif,
4) penalaran induktif,
5) metode ilmiah
1. Pengalaman
1. Pengalaman Merupakan suatu sumber pengetahuan yang sering digunakan
manusia. Pengetahuan yang diturunkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya
umumnya merupakan hasil dari pengalaman manusia. Bila manusia tidak dapat mengambil keuntungan dari
pengalamannya, kemajuannya akan sangat terlambat. Sekalipun kegunaannya yang
besar, pengalaman sebagai sumber kebenaran mempunyai keterbatasan-keterbatasan.
Bagaimana seseorang terpengaruh oleh suatu peristiwa tergantung kepada orang
itu sendiri. Kekurangan lain dari pengalaman adalah bahwa manusia sering kali
perlu mengetahui hal-hal yang tidak ia ketahui/dapatkan dari pengalaman.
2. Keahlian
Untuk hal-hal yang sulit atau tidak mungkin diketahui
melalui pengalaman pribadi manusia berpaling kepada orang lain yang dianggap
mengetahui, berpengalaman, atau mempunyai keahlian tentang hal tersebut.
Manusia biasanya menganggap informasi dari para ahli sebagai kebenaran.
Meskipun keahlian merupakan salah satu sumber pengetahuan yang bermanfaat, kita
tidak dapat melupakan pertanyaan: ”Bagaimana para ahli tersebut tahu?” Jaman
dahulu seorang ahli dianggap benar hanya karena jabatan yang dipangkunya misalnya
raja, ketua, atau pendeta. Sekarang orang tidak mau lagi tergantung pada
individu sebagai seorang ahli karena jabatannya. Kini orang cenderung untuk
menerima asumsi-asumsi seorang ahli hanya bila ia mendasarkan
pernyataan-pernyataannya pada pengalaman atau sumber-sumber pengetahuan lain
yang dapat dipercaya.
3. Penalaran Deduktif
Mungkin sumbangan penting pertama dalam pengembangan
suatu pendekatan sistematik untuk menemukan kebenaran diberikan oleh para ahli
filsafat kuno Yunani. Aristoteles beserta pengikutnya memperkenalkan penggunaan
penalaran deduktif, yang dapat digambarkan sebagai suatu proses berpikir di
mana orang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang umum ke yang khusus dengan
menggunakan aturan-aturan logika. Penalaran deduktif merupakan suatu sistem
untuk menyusun fakta-fakta yang telah diketahui sebelumnya agar dapat mengambil
kesimpulan. Ini dilakukan melalui suatu rentetan pernyataan yang dinamakan
silogisme. Silogisme berisi: a) premis mayor, b) premis minor, dan c)
kesimpulan.
Contoh penalaran silogistik adalah sebagai berikut :
a) Semua manusia dapat mati (premis mayor),
b) presiden itu manusia (premis
minor); karena itu presiden itu dapat mati
(kesimpulan).
Dalam penalaran deduktif, bila premis-premisnya benar,
kesimpulannya harus benar. Penalaran deduktif memungkinkan kita menyusun
premis-premis ke dalam pola-pola yang memberikan bukti konklusif untuk
validitas suatu kesimpulan. Akan tetapi, penalaran deduktif mempunyai
keterbatasan-keterbatasan. Kesimpulan silogisme tidak pernah dapat melebihi isi
premis-premisnya. Penalaran deduktif dapat menyusun apa yang sudah diketahui
dan dapat melahirkan hubungan baru pada waktu kita bergerak dari pernyataan
yang umum ke yang khusus, tapi belum cukup untuk menjadi sumber kebenaran baru.
Sekalipun mempunyai beberapa keterbatasan, penalaran
deduktif bermanfaat pada proses penelitian. Penalaran ini juga memungkinkan
para peneliti untuk menyimpulkan fenomena apa yang harus diamati dari teori
yang sudah ada. Deduksi dari teori dapat melahirkan hipotesis, yang merupakan
bagian penting dari penelitian ilmiah.
4. Penalaran Induktif
Kesimpulan-kesimpulan penalaran deduktif benar hanya bila
premis-premisnya benar. Tetapi bagaimana orang tahu apakah premis-premis
tersebut benar? Dalam abad pertengahan dogma seringkali digunakan sebagai
pengganti premis-premis yang benar. Akan tetapi hasilnya merupakan kesimpulan
yang tidak mempunyai validitas. Kemudian muncullah seorang yang bernama Francis
Bacon (1561 – 1626), orang pertama yang memperkenalkan pendekatan baru untuk
memperoleh pengetahuan. Ia berpendapat bahwa orang seharusnya tidak usah
memperbudak diri sendiri dengan cara menerima premis-premis yang diberikan oleh
orang-orang yang dianggap ahli sebagai kebenaran mutlak. Ia berpendapat bahwa
peneliti harus menyusun kesimpulan umum berdasarkan fakta yang dikumpulkan
melalui pengamatan langsung. Bagi Bacon, untuk memperoleh pengetahuan orang
harus mengadakan pengamatan, mengumpulkan fakta dan membuat kesimpulan dari
penemuan-penemuannya. Inilah yang menjadi prinsip dasar dari semua ilmu.
Perlu diperhatikan bahwa dalam penalaran deduktif
premis-premis yang digunakan harus sudah diketahui sebelum kesimpulan dibuat.
Tetapi dalam penalaran induktif kesimpulan diambil dengan pengamatan
contoh-contoh dan kemudian barulah penyimpulan dari contoh-contoh tersebut
diambil. Agar kesimpulan induktif lebih dapat dipercaya, semua contoh harus
diamati. Ini dikenal sebagai induksi sempurna dalam sistem Bacon. Cara ini
menuntut peneliti untuk mengamati setiap contoh. Dalam kenyataannya hal ini
pada umumnya tidak mungkin dilakukan. Karena itu kita biasanya harus puas
dengan induksi yang tak sempurna berdasarkan pengamatan tak tuntas. Sekalipun
induksi tak sempurna tidak memungkinkan kita untuk mengambil kesimpulan
sempurna, kita dapat memperoleh informasi yang bermanfaat untuk membuat
keputusan.
5. Metode Ilmiah
Metode ilmiah biasanya dilukiskan sebagai suatu proses di
mana peneliti menalar secara induktif dari pengamatan-pengamatannya ke arah
hipotesis dan kemudian secara deduktif dari hipotesis ke arah implikasi logis
hipotesis tersebut. Peneliti mendeduksikan hasil yang akan diperolehnya, bila
hipotesis tersebut didukung oleh data observasinya. Bila implikasi yang
dideduksikan ini sesuai dengan pengetahuan yang sudah ada maka ini kemudian
diuji dengan data empiris tambahan. Berdasarkan bukti ilmiah, maka hipotesis
peneliti ditolak atau diterima.
Penggunaan
hipotesis merupakan perbedaan utama antara pendekatan ilmiah dengan penalaran
induktif. Dalam penalaran induktif orang mengadakan pengamatan dulu kemudian ia
menyusun informasi yang diperolehnya. Dalam pendekatan ilmiah orang berpikir
tentang apa yang akan ditemukannya bila suatu hipotesis benar (didukung oleh
data) dan kemudian secara sistematis ia mengamati datanya untuk menguji
hipotesisnya. Yang perlu diingat di sini adalah bahwa metode ilmiah merupakan
suatu proses penelitian yang dilakukan melalui bagian-bagian yang saling
tergantung satu dengan yang lain. Ini adalah suatu metode penelitian yang
senantiasa berkembang sepanjang masa dan telah dipertahankan karena metode
tersebut telah membuktikan sebagai metode yang berhasil sampai kini untuk
memahami dunia kita yang rumit ini.
BAB 3
HAKIKAT PENELITIAN PENDIDIKAN
Pada hakikatnya
penelitian merupakan suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji
kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan metode- metode ilmiah. Menurut Suparmoko (1991), penelitian adalah usaha yang
secara sadar diarahkan untuk mengetahui atau mempelajari fakta-fakta baru dan
juga sebagai penyaluran hasrat ingin tahu manusia.
Penelitian adalah investigasi yang
sistematis, terkontrol, empiris dan kritis dari suatu proposisi hipotesis
mengenai hubungan tertentu antarfenomena (Kerlinger, 1986: 17-18). Penelitian
merupakan refleksi dari keinginan untuk mengetahui sesuatu berupa fakta-fakta
atau fenomena alam. Perhatian atau pengamatan awal terhadap fakta atau fenomena
merupakan awal dari kegiatan penelitian yang menimbulkan suatu pertanyaan atau
masalah (Indriantoro dan Supomo,1999: 16). Sedangkan menurut Fellin, Tripodi dan Meyer (1969) penelitian adalah
suatu cara sistematik untuk maksud meningkatkan, memodifikasi dan mengembangkan
pengetahuan yang dapat disampaikan (dikomunikasikan) dan diuji (diverifikasi)
oleh peneliti lain.
Dari definisi para ahli di atas,
dapat disimpulkan bahwa pengertian penelitian yaitu suatu proses
penyelidikan yang dilakukan secara sadar, bersifat
sistematik, terkontrol, empiris dan kritis, dalam mengungkap suatu fenomena
atau hubungan fenomena tertentu dengan maksud meningkatkan, memodifikasi dan
mengembangkan pengetahuan yang dapat diverifikasi.
Dalam dunia
pendidikan, dengan penelitian bisamembawa pengertian yang semakin baik terhadap
perilaku orang perseorangan, termasuk subyek didik atau pendidik, proses
belajar mengajar serta situasi atau kondisi yang bisa membuat lebih berhasilnya
proses pendidikan. Pada ilmu - ilmu tingkah laku, penelitian mengarah pada
pengembangan dan pengujian teori- teori tingkah laku. Pemahaman terhadap
tingkah laku peserta didik atau pun pendidik semakin di perlakukan dari hasil-
hasil penelitian dalam bidang pendidikan, baik dari segi ilmu maupun
prakteknya.
Pada umumnya
penelitian- penelitian pendidikan tergolong penelitian jenis terapan guna
mengembangkan generalisasi- generalisasi yang berkenaan dengan proses belajar
mengajar dan bahan- bahan mengajar. Karena itu, penelitian pendidikan
memberikan perhatiannya pada pengembangan dan pengujian teori- teori tentang
bagaimana peserta didik berperilaku dalam setting pendidikan.
Berdasarkan
pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulkan pengertian penelitian
pendidikan adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang berguna
dan dapat dipertanggungjawabkan dalam upaya memahami proses kependidikan dalam
lingkungan pendidikan melalui pendekatan ilmiah, baik di lingkungan pendidikan
formal, pendidikan informal, maupun pendidikan nonformal. Menemukan prinsip-
prinsip umum atau penafsiran tingkah laku yang dapat dipakai untuk menerangkan,
meramalkan, dan mengendalikan kejadian- kejadian dalam lingkungan pendidikan
merupakan tujuan dari suatu kerja penelitian pendidikan.
Pada dasarnya
tujuan penelitian pendidikan ialah menemukan prinsip- prinsip umum atau
penafsiran tingkah laku yang dapat dipakai untuk menenrangkan, meramalkan, dan
mengendalikan kejadian – kejadian dalam lingkungan pendidikan, baik pendidikan
formal, nonformal, maupun informal.
Secara umum
bebrapa tujuan penelitian yang hendak dicapai, termasuk penelitian pendidikan antara lain:
(1) memperoleh informasi baru,
(2) mengembangkan dan menjelaskan, dan
(3) menerangkan, memprediksi, dan mengontrol suatu ubahan.
(1) memperoleh informasi baru,
(2) mengembangkan dan menjelaskan, dan
(3) menerangkan, memprediksi, dan mengontrol suatu ubahan.
Tujuan- tujuan
penelitian tersebut diuraikan sebagai berikut.
1.
Memperoleh informasi baru
Untuk menemukan
sesuatu yang baru bidang pendidikan dilakukan melalui penelitian pendidikan.
Artinya, dalam perkembangan pengetahuan, termasuk juga ilmu atau pengetahuan di
bidang pendidikan, penemuan sesuatu yang baru mengenai berbagai persoalan
pendidikan dapat dilakukan dengan metode atau cara penelitian yang hasilnya
berupa temuan-temuan baru. Karena itu, kegiatan penelitian harus dilakukan
dengan cara- cara yang benar, dalam arti dilakukan secara sistematis dengan
menggunakan metode- metode ilmiah.
2.
Mengembangkan dan menjelaskan
Mengembangkan
hasil kajian dari suatu kegiatan penelitian pendidikan berarti mengembangkan
perubahan-perubahan dan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh individu, kelompok
ataupun organisasi dalam kurun waktu tertentu.
3.
Menerangkan, memprediksi, dan mengontrol suatu
ubahan
Ubahan yang
didalam istilah penelitian disebut variabel. Variabel adalah gejala yang sedang
diteliti. Variabel atau ubahan adalah simbol yang digunakan untuk mentransfer
gejala ke dalam data penelitian. Biasanya variabel muncul pada tingkat
intensitas yang berbeda sehingga variabel itu adalah variabel lebel. Ada
beberapa varibel yang biasa digunakan dalam suatu penelitian, yaitu: variabel
bebas dan variabel terikat. Variabel bebas (independent
variable) adalah variabel yang memberi pengaruh atau diuji pengaruhnya
terhadap variabel lain, disebut juga variabel perlakuan, variabel eksperimen
atau variabel intervensi. Variabel terikat (dependent
variabel) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas, disebut
juga variabel hasil, variabel pos tes, atau variabel kriteria.
Pemahaman
tentang bagaimana penelitian berperan dalam mengembangkan pengetahuan dan
memperbaiki praktik pendidikan dikaitkan dengan perbedaan macam-macam
penelitian berkenaan dengan fungsinya. Secara umum penelitian mempunyai dua
fungsi utama, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki praktek.
Penelitian
dasar, misalnya mempunyai andil yang
sangat besar dalam mengembangkan batang ilmu pengetahuan (a
scientific body of knowledge). Temuan-temuan penelitian dasar dapat
memperkaya teori. Selain pengembangan ilmu pengetahuan peranan penelitian lain yang
berfungsi memperbaiki praktek (pendidikan) adalah penelitian terapan dan
evaluatif yang ditujukan untuk meneliti praktik pendidikan, meneliti
penerapan teori atau mengevaluasi pelaksanaan program dan kegiatan. Karena itu,
hasil-hasil penelitian terapan dan evaluasi tersebut dapat
digunakan untuk memperbaiki praktik pendidikan.
Berdasarkan
pendekatan, secara garis besar dibedakan dua macam penelitian,
yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Keduanya
memiliki asumsi, karakteristik dan prosedur penelitian yang berbeda. Secara
umun terdapat perbedaan mendasar antara penelitian kualitatif dengan penelitian
kuantitatif, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
|
Penelitian
kuantitatif
|
Penelitian
kualitatif
|
|
1. Berpijak pada konsep Positivistik.
2. Kenyataan berdimensi tunggal, fragmental terbatas, fixed.
3. Hubungan antara peneliti dengan objek lepas, penelitian dari luar dengan instrumen standar yang objektif.
4. Seting penelitian buatan lepas
dari tempat dan waktu.
5. Analisis kuantitatif, statistik, objektif.
6. Hasil penelitian berupa inferensi,
generalisasi, prediksi.
|
1. Berpijak pada konsep Naturalistik
2. Kenyataan berdimensi jamak, kesatuan utuh, terbuka, berubah.
3. Hubungan peneliti dengan objek berinteraksi, penelitian dari luar dan dalam, peneliti sebagai instrumen, bersifat subjektif, judgement.
4. Seting penelitian alamiah,
terkait, tempat
dan waktu.
5. Analisis subjektif, intuitif,
rasional.
6. Hasil penelitian berupa deskripsi,
interpretasi, tentatif-situasional.
|
Oke.. dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru
sudah pasti akan berhadapan dengan berbagai persoalan baik menyangkut peserta
didik, subject matter, maupun metode pembelajaran. Sebagai seorang profesional,
guru harus mampu membuat prefessional judgement yang didasarkan pada data
sekaligus teori yang akurat. Selain itu guru juga harus melakukan peningkatan
mutu pembelajaran secara terus menerus agar prestasi belajar peserta didik
optimal disertai dengan kepuasan yang tinggi.
Untuk mewujudkan hal tersebut guru harus dibekali dengan kemampuan meneliti, khususnya Penelitian Tindakan Kelas. Dalam hal ini peran pengawas sebagai pembina dan pembimbing para guru tentu sangat dibutuhkan. Pengawas tidak hanya berperan sebagai resources person atau konsultan, bahkan secara kolaboratif dapat bersama-sama dengan guru melakukan penelitian tindakan kelas bagi peningkatan pembelajaran.
Untuk mewujudkan hal tersebut guru harus dibekali dengan kemampuan meneliti, khususnya Penelitian Tindakan Kelas. Dalam hal ini peran pengawas sebagai pembina dan pembimbing para guru tentu sangat dibutuhkan. Pengawas tidak hanya berperan sebagai resources person atau konsultan, bahkan secara kolaboratif dapat bersama-sama dengan guru melakukan penelitian tindakan kelas bagi peningkatan pembelajaran.
Pada
awalnya, penelitian tindakan (action research) dikembangkan dengan
tujuan untuk mencari penyelesaian terhadap problema sosial (termasuk pendidikan).
Penelitian tindakan diawali oleh suatu kajian terhadap suatu masalah secara
sistematis (Kemmis dan Taggart, 1988). Hasil kijian ini dija- dikan dasar untuk
menyusun suatu rencana kerja (tindakan) sebagai upaya untuk mengatasi masalah
tersebut. Kegiatan berikutnya adalah pelaksanaan tindakan dilanjutkan dengan
observasi dan evaluasi. Hasil observasi dan evaluasi digunakan sebagai masukkan
melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada saat pelaksanaan tindakan. Hasil
refleksi kemudian dijadikan landasan untuk menentukan perbaikan serta
penyempurnaan tindakan selanjutnya.
Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan sendiri. Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai praktik dan situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan. Terdapat dua hal pokok dalam penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini akan mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu;
Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan sendiri. Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai praktik dan situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan. Terdapat dua hal pokok dalam penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini akan mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu;
(1) untuk memperbaiki praktik;
(2) untuk pengembangan profesional
dalam arti meningkatkan pemahaman para praktisi terhadap praktik yang
dilaksanakannya; serta
(3) untuk memperbaiki keadaan
atau situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan.
Dalam
bidang pendidikan, khususnya dalam praktik pembelajaran, pene-litian tindakan
berkembang menjadi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action
Reserach (CAR). PTK adalah penelitian tindakan yang
dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran berlangsung. PTK dilakukan
dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK
berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas.
Tujuan
utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam
kelas sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan
melalui tindakan yang akan dilakukan. PTK juga bertujuan untuk meningkatkan
kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesinya. Tujuan khusus PTK adalah
untuk mengatasi berbagai persoalan nyata guna memperbaiki atau meningkatkan
kualitas proses pembelajaran di kelas. Secara lebih rinci tujuan PTK antara
lain:
- Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
- Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
- Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
- Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/pembelajaran secara berkelanjutan.
Output
atau hasil yang diharapkan melaltu
PTK adalah peningkatan atau perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran
yang meliputi hal-hal sebagai berikut.
- Peningkatan atau perbaikan kinerja siswa di sekolah.
- Peningkatan atau perbaikan mutu proses pembelajaran di kelas.
- Peningkatan atau perbaikan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainya.
- Peningkatan atau perbaikan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.
- Peningkatan atau perbaikan masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
- Peningkatan dan perbaikan kualitas dalam penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa di sekolah.
Dengan
memperhatikan tujuan dan hasil yang dapai dapat dicapai melalui PTK, terdapat
sejumlah manfaat PTK antara lain sebagai berikut.
- Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan bagi para pendidik (guru) untuk meningkatkan kulitas pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat dijadikan sebagai bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.
- Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan pendidik. Hal ini ikut mendukung professionalisme dan karir pendidik.
- Mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antarpendidik dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah dalam pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
- Meningkatkan kemampuan pendidik dalam upaya menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini turut memperkuat relevansi pembelajaran bagi kebutuhan peserta didik.
- Memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Di samping itu, hasil belajar siswa pun dapat meningkat.
- Mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, serta melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.
Pengumpulan Data – Kegiatan ini harus didasarkan pada pedoman yang sudah dipersiapkan dalam rancangan penelitian. Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penelitian dijadikan dasar dalam menguji hipotesis yang diajukan.
Analisis Data – Pengolahan data atau analisis ini dilakukan setelah data terkumpul semua yang kemudian dianalisis, dan dihipotesis yang diajukan diuji kebenarannya melalui analisis tersebut. Jika jenis data yang dikumpulkan itu berupa data kualitatif, maka pengolahan datanya dilakukan dengan cara menarik kesimpulan deduktif-induktif, namun jika data yang dikumpulkan berupa jenis data kuantitatif atau berbentuk angka-angka, maka analisis yang digunakan menggunakan analisis kuantitatif atau statistika sebelum menarik kesimpulan secara kualitatif.
validalitas:
Membicarakan validitas sebagai terminologi penelitian, setidak-tidaknya akan sampai pada dua pengertian , yakni berkaitan dengan pengukuran dan yang kedua berkaitan dengan penelitian itu sendiri. validitas berkaitan dengan tiga unsur; alat ukur,metode ukuran dan pengukur(peneliti).
Validitas ukur adalah suatu keadaan dimana alat ukur yang di gunakan untuk mengukur karakteristik seperti yang diinginkan oleh peneliti untuk diukur.
Validitas penelitian mempunyai pengertian yang berbeda dengan validitas pengukuran, walaupun untuk termencapai validitas penelitian syarat validitas pengukuran harus terpenuhi pula
Membicarakan validitas sebagai terminologi penelitian, setidak-tidaknya akan sampai pada dua pengertian , yakni berkaitan dengan pengukuran dan yang kedua berkaitan dengan penelitian itu sendiri. validitas berkaitan dengan tiga unsur; alat ukur,metode ukuran dan pengukur(peneliti).
Validitas ukur adalah suatu keadaan dimana alat ukur yang di gunakan untuk mengukur karakteristik seperti yang diinginkan oleh peneliti untuk diukur.
Validitas penelitian mempunyai pengertian yang berbeda dengan validitas pengukuran, walaupun untuk termencapai validitas penelitian syarat validitas pengukuran harus terpenuhi pula
Ada dua macam validitas penelitian yakni:
Validitas internal : ikwal kesahihan penelitian yang menyangkut pernyataan ; sejauh mana perubahan yang diamati dalam suatu penelitian (terutama penelitian ekprimental) benar-benar hanya terjadi karena perlakuan yang di berikan dan bukan pengaruh factor lain (variabel luar).
Faktor-Faktor yang mempengaruhi validitas internal:
1. Sejara(history) : Peristiwa yang terjadi pada waktu lalu dan kadang-kadang dapat berpengaruh teradap variable terikat
2. Kematangan (muturitas) : Adanya perubahan baik secara biologis maupun non biologis yang prosesnya dapat berpengaruh.
3. Seleksi(selection) : adanya perubahan cirri-ciri atau sifat-sifat dari suatu populasi
4. Prosedur (testing) : terjadinga stress yang dapat berpengaruh terhadap hasil tes
5. Instrumen : adanya pengaruh yang diakibatkan oleh alat ukur terhadap hasil tes
6. Mortalitas : adanya perubahan yang terjadikarena adanya anggota dari populasi yang drop out.
7. Nilai rata-rata : terjadinya perubahan akibat adanya nilai ekstrim tinggi atau yang rendah seingga mempengaruhi hasil tesnya
Validitas eksternal : ikhwal penelitian yang menyangkut pertanyaan, sejauh mana
hasil suatu penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi induk (asal
sampel) penelitian diambil.
Contoh : apabila kita meneliti tingkat efektifitas suatu metode penyuluhan baru mengenai program imunisasi dengan mengambil sampel di suatu desa dan ternyata baik hasilnya.
Contoh : apabila kita meneliti tingkat efektifitas suatu metode penyuluhan baru mengenai program imunisasi dengan mengambil sampel di suatu desa dan ternyata baik hasilnya.
Factor-faktor yang mempengaruhi validitas
1.Efek seleksi berbagai anggota sampel
2. Gangguan penanganan perlakuan berganda